aku ada karena aku berfikir . .

*****

Jumat, 12 Juli 2013

PERAK : The Lost Love Finally Found

Dalam keagungan Nama dan Cinta Tuhan, kepadamu wahai Tuan Rumahku.

sebenarnya, menulis hal ini adalah salah satu ketakutanku. takut ketika waktu harus berjalan meninggalkan kesan, senyuman, dan tangis kebahagiaan. dari sudut pandangku Ketika aku pertama kali mengenal PERAK, aku tidak pernah berhenti berpikir tentangnya. karya nyata Tuhan dalam atmosfer cinta kasihNya. PERAK, seperti pelangi di mana masing-masing warna akan mengalir. Merah sama seperti jantung yang berdetak. Orange sangat lucu dan manis. Kuning adalah sinar matahari yang menghidupi. Hijau, memiliki banyak kegembiraan. Ungu adalah warna cinta. Dengan masing-masing warna datang dengan senyum manis, membuat hati berdetak seribu mil.

aku paham, Tuhan memintaku untuk berkarya di PERAK. sebuah hal yang tak ku rencanakan sebelumnya. tersesat didalam kenikmatan yang sejati. disini aku belajar bagaimana memahami, bagaimana tersenyum dan tertawa bersama, bagaimana melihat dunia dengan semua yang ada padanya.

Tuhan, aku jatuh cinta kepada PERAK..

Engkau sendiri yang telah menanam benih kasih ini. Engkau sendiri yang merawat dan menjaga perasaan ini. kini semua telah menjadi pohon yang besar, yang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang bernaung dibawahnya.

Engkau tau Tuhan, Bagiku, PERAK seperti gigi palsu, karena aku tidak mampu tersenyum tanpanya. Aku tidak pernah berpikir mampu mencintai sesuatu seperti aku mencintai PERAK. dan peristiwa terbaik dalam hidupku adalah jatuh cinta kepada PERAK.

PERAK begitu dalam meninggalkan kesan, mengajarkan arti dari kehidupan. ketika aku melihat seorang Tora, aku mengerti maksud dari persahabatan. ketika aku memandang dia yang bernama maya, aku memahami apa yang disebut keceriaan. Petria memahamkanku dengan keteguhan, Iman mengenalkanku dengan kesungguhan. ketika aku melihat seorang Risky, aku memahami makna dari kelembutan. dan ketika aku menoleh menghadap Shinta, aku melihat apa yang disebut ketulusan. Agung menunjukkanku apa itu toleransi, dan Ghe, darinya aku mengerti makna perjuangan. aku belajar dari Vika tentang kesetiaan, dari Eko aku tau apa itu kesabaran. semua itu bermuara ketika aku menghaturkan segala penghormatanku kepada Mas Radit, simbolisasi PERAK, darinya aku menemukan kesempurnaan dalam metamorfosa kehidupan.

Aku satu tangan, dan kamu memiliki yang lain, satukan mereka bersama-sama dan kita saling memiliki. PERAK seperti lagu favoritku. Ketika lagu tersebut berakhir, aku terus ingin mengulanginya. dan merupakan saat terindah di dalam hidupku adalah ketika aku menghabiskan waktu bersama PERAK. Ketika aku sedang bersama PERAK, aku sangat sulit tidur. Karena bersama PERAK, sangat aku sadari, jauh lebih indah daripada mimpi di dalam tidurku.

PERAK, kamu seperti kamera. Kapanpun kami melihatmu, maka kami akan senyum. Caramu berjalan, berbicara, dan caramu menyebut nama membuat selalu mencintaimu. dan Karena kamu ada di dekatku, aku tersenyum lebih sering, dan aku mencintai lebih banyak. Aku tidak akan pernah bilang kepada siapapun bahwa suaramu adalah lagu favoritku. Kamu selalu berusaha membuatku tersenyum, meskipun harimu buruk. Hatiku sempurna karena ada dirimu, dan cintaku sempurna karena aku memilikimu. Aku hanya ingin melihatmu, menggenggam tanganmu, dan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Kamu adalah motivasi terbesarku untuk terus bangun di pagi hari dan menuju kampus tercinta. Ketika kamu melihatku, kamu akan menemukan diriku. Tetapi ketika kamu melihat hatiku, kamu akan menemukan dirimu sendiri. Kamu mengalihkan duniaku dengan satu senyuman, dan kamu mengalihkan seluruh hatiku dengan satu ciuman.

PERAK, Sebagaimana menyalakan api dengan salju, seperti itulah berusaha untuk memadamkan api cinta dengan kata-kata. Aku lebih memilih membagi seluruh hidupku bersamamu daripada menghadapi sepanjang zaman di dunia ini seorang diri. Aku mencintaimu. Kamu adalah salah satu alasanku untuk hidup. selalu ada kegilaan dalam cinta. Tapi juga selalu ada alasan dalam kegilaan bersamamu. sesungguhnya Mencintai untuk dicintai itu sifat manusia, tapi mencintai untuk mencintai itu sifat malaikat, dan kau lah malaikatku.

Berlarilah menghadap matahari maka bayangan akan mengikutimu. Karena, jika kau berlari membelakangi matahari, maka bayang-bayanglah yang akan kau kejar.

PERAK, aku percaya bahwa kita akan selalu bersama dan ketahuilah bahwa kamu selalu ada di dalam hatiku untuk saat ini dan selamanya.. Aku mungkin tidak cerdas, tetapi aku tahu apa itu cinta. Aku hanya mengharapkan satu hal darimu, jatuh cintalah padaku!

dari pemuja setiamu,
melalui sisi tergelapku,
dengan ketulusan hatiku,
atasnama cinta :
Aldino Deanasa...


P
E
R
A
K

In Radit We Trust!

and will always..

Kamis, 17 Januari 2013

Tuan Rumahku


Tuan Rumahku..                                                                      
Wahai Tuan Rumahku..                     
Engkaulah Tuan Rumahku..                   
Tuan Rumah dalam jiwaku..                             

pemimpin hidupku..                          
Wahai Pemimpin hidupku..              
Engkaulah imam dihidupku....                                
Imam dalam kehidupanku..            

penuntun imanku..          
Engkaulah matahari yang senantiasa menyinari kalbuku..          
Rembulan yang setia menemani nurani dan pribadiku..
Wahai Engkau yang menjadi penyejuk bagi pandanganku..

telah lama aku berkeluh kesah akan kerinduanku kepadamu..
wahai Tuan Rumah dalam jiwaku..
dan karenanya aku selalu menyebutmu,
Wahai imam dihidupku..

Penghilang beban berat dan penghapus dukaku..          
Engkaulah Panglima perjuanganku..            
Cakrawala dari segala rinduku..                                 
Wahai pintu keabadianku..





Tuan Rumahku..                                                                      
Tuan Rumah dalam jiwaku..                     
Dengarkanlah Tuan Rumahku..                    
Harapanku, cita citaku sepenuhnya adalah dapat abadi bersamamu,
Wahai Tuan Rumahku..                            

Pemimpin hidupku..                          
Dengarkanlah Wahai Pemimpin hidupku..                                          
Penantian ini sungguh terlalu lama..
Hilangkan kesusahan yang mengerudungiku,
Sehingga aku dapat bersama denganmu selalu..                                                                                  

Engkaulah imam dihidupku....                                
Sejatinya Imam dalam kehidupanku..

Jumat, 11 Januari 2013

Mengapa harus menyebutNya?


Dengan Menyebut Nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

sebuah kalimat yang menjadi awal pembukaan dari kompas terbaik untuk manusia dalam menjelajah topografi kehidupan dunia ini. Sebuah kalimat yang singkat namun sangat dalam maknanya bagi mereka yang mau merenungi dan berfikir.

Adakah rahasia Beliau membuat, menata kalimat tersebut untuk mengawali seluruh firmanNya? Setelah saya mencoba untuk mengupas dan merenungkan, dapat kita temukan sebuah konsepsi pemikiran yang luar biasa didalam peletakan dan peramuan struktur kalimat itu. 



Dengan Menyebut Nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Jika kita menguraikan kalimat itu menjadi rangkaian kata kata, bisa kita kerucutkan menjadi :


  • Dengan 
  • Menyebut
  • Nama 
  • Allah
  • Yang Maha Pengasih
  • Lagi Maha Penyayang


Ada dua pemaknaan yang bisa didapatkan. ‘dengan’ yang digandengkan dengan kata yang dimaknai sebagai kata sifat, dan ‘dengan’ yang digandengkan dengan kata yang dimaknai sebagai kata kerja. 

Pada saat kita mengamati dari kacamata pemaknaan kata ‘dengan’ yang digandengkan dengan kata sifat, maka akan muncul konsepsi tentang sebuah keadaan dimana dalam suatu kondisi, keadaan itu adanya terkuasai penuh oleh sebuah rasa yang menjadi fokus terhadapnya. Contohnya seperti gambaran ini, “Budi berjalan dengan gagah”, atau “Nenek menyanyi dengan riang hati”. 

Ketika Budi berjalan, dia fokus berjalan, namun tidak sekedar berjalan, tapi berjalan dengan gagah, sehingga dia lebih menekankan fokus untuk gagah, gagah dalam berjalan. Sama dengan contoh nenek menyanyi dengan riang hati. Nenek itu menyanyi, namun tidak sekedar menyanyi, tapi menyanyi dengan riang hati, yang lebih tampak adalah keriangan hatinya dengan ditunjukkan lewat menyanyi. Sehingga ampak antara kedua hal tersebut saling bersatu.

Namun selain itu, kata “dengan” dalam konteks kalimat tersebut, bisa dimaknai dari penggandengannya dengan kata kerja (dengan menyebut), sehingga memunculkan orientasi akan hasil yang diperoleh atas keadaan yang terjadi dari kondisi yang disengajakan untuk dilakukan. Misalnya kita jadikan contoh seperti kalimat ini “dengan begadang meronda, para warga berhasil membuat takut pencuri yang akan beraksi” atau “dengan berkunjung ke rumah Pamannya, Ponijo mendapatkan uang saku”. Namun hebatnya, Allah ‘merahasiakan’ (sebenarnya tidak) orientasi hasil yang diperoleh atas keadaan yang akan kita lakukan dimana kita sebelumnya menyengajakan menyebut namaNya.  

Ini benar benar konsep yang indah sekali. Beliau lebih memilih kata ‘Menyebut’ daripada kata ‘Mengingat’. Mengapa?

Pemaknaan kata ‘Menyebut’ itu dalam pemikiran penulis, jauh lebih besar efeknya. Seseorang yang ingat belum tentu bisa menyebut, namun jelas, seseorang yang bisa menyebut pastilah ingat. Sehingga Beliau menghendaki kepada kita untuk tidak sekedar meyakini dalam hati, namun juga menunjukkan dalam perbuatan. Ditampakkan dalam wujud nyata, yang sebenarnya menjadi bagian dari konsep iman, yaitu ‘meyakini dalam hati dan mengamalkan dalam perbuatan’

Lalu konteks selanjutnya, Beliau memilih kata ‘Nama’. Mengapa demikian? Mengapa Beliau tidak memilih kata ‘Sifat’ atau ‘Dzat’ atau ‘Kuasa’ dan sebagainya?

Jawabnya, karena seluruhnya (Sifat, Dzat, Kuasa, Kelebihan, Kemampuan, dll) sudah termaktub, terangkum, tertuang dalam namaNya. Ya kan? Hebat sekali Beliau menata struktur itu.

Setelah itu, kata selanjutnya. Dengan menyebut nama Allah. Disini Beliau menggunakan namaNya langsung. Mengapa Beliau tidak menggunakan kata ganti ‘Tuhan’? disini Beliau dengan hak dan kemuliaan serta kebesarannya memproklamirkan diriNya. Allah ialah nama Dzat Yang Maha Suci, Beliaulah Yang Berhak Disembah Dengan Sebenar-benarnya, Yang Tidak Membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. 

Ketika apabila kata yang digunakan itu ‘Tuhan’, orang orang yang tidak mempercayaiNya bisa memlagiat kalimat itu untuk mereka gunakan, karena konteks Tuhan itu bisa dibuat dan ditafsirkan bermacam macam oleh manusia yang tidak mempercayaiNya, tetapi dengan secara langsung memproklamirkan bahwa yang disebut itu adalah nama Allah, maka hilanglah kemungkinan kemungkinan penyalahgunaan yang dapat muncul.

Dan selanjutnya, ini merupakan bagian rahasia terunik bagi penulis. Beliau memiliki 99 nama Yang Mulia. Namun mengapa yang dipilih justru Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Tidakkah lebih gagah jika menggunakan Maha Perkasa? Atau Maha Agung?

Ar Rahmaan (Maha Pengasih): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, baik kepada yang percaya kepadaNya maupun kepada yang bahkan berani menantang kuasaNya.

sedangkan ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
----------------------------------

awalilah segalanya dengan menyebut namaNya, karena dengannya apapun yang kita awali akan selalu senantiasa berada dalam lingkup kesatuan kesadaran frekuensi denganNya yang akan menjadikan keberadaan dan kondisi kita dihujani dengan kasih dan sayangNya..

Selasa, 01 Januari 2013

BATIK PENCABIK (lembar dua)


sambungan dari 
BATIK PENCABIK (lembar satu)

“ya entah, mungkin nggak suka modelnya, murahan, apa nggak suka sama yang ngasih ya nggak tau juga” jawabnya dengan rona wajah sedikit kecewa

lha alesannya dia apa?”

ya kalo dia bilang ya aku udah bakal tau”

dia nggak bilang alesannya? Lha terus gimana kok itu dikembaliin”  tanyaku lagi

nggak. Dia nggak ngasih tau alesannya. Itu batik habis aku beli langsung tak taruh di kendaraannya, yah niatnya sih kasih kejutan. Terus nggak tau gimana ceritanya dia justru naruh itu di lemari kerja kami. Ditambah lagi sejak momen itu dia menjauhi aku”

Dalam hati aku merasakan betapa perihnya perasaan yang didapatkannya. Mencoba bekerja untuk mendapat uang, dimana uang itu dia tujukan untuk membelikan sebuah barang yang mungkin tidak berharga bagi orang yang dia sayangi, tapi justru akhirnya bersuasana tragis. Tak bisa aku bayangkan bagaimana berkecamuknya perasaan dia mendapati keadaan yang seperti itu dimana dia yang sehari harinya sebagai orang jawa tulen, sangat peka terhadap perasaan, sensitif, apalagi idiom orang jawa itu kan orang jawa adalah tempatnya merasa.

“salahku apa?” katanya sambil menutup mata dengan tangannya. Tampak airmata mengalir perlahan.

Tak mau melewatkan momen itu, aku justru iseng iseng membuka file lagu yang ada di smartphonenya, aku putar lagu Air Mata-nya Dewa19. Cocok banget sama momennya! Hahaha

“kamu kalo mau nangis, nangis aja. Nggak usah ditahan. Aku sekarang tau virus sakitmu itu apa. Semoga habis kamu nangis, sakitmu bisa hilang” jawabku sambil mengambilkan kotak tissu yang ada disamping kasurnya dimana lagu Air Mata Dewa19 yang dinyanyikan once “menangislah.. bila harus menangis.. karena kita semua manusia..” masih terus mengalun membuat suasana semakin monumental untuk menangis.

aku nggak tau bisa sembuh apa nggak, aku terlalu sayang sama dia. Aku takutnya kalau sampa ajal dateng, bukan nama Tuhan yang tak sebut, tapi justru namanya” katanya sambil masih menutup matanya.

kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Inget ini, banyak cara orang menyampaikan terimakasih. Salah satunya adalah dengan tidak berterimakasih. Mungkin dia masuk tipe yang itu” kataku berusaha menghibur

Kami saling terdiam untuk beberapa menit. Waktu sudah semakin larut malam dan aku pun mohon pamit kepadanya

cepet sembuh ya. Nggak usah mikirin dia dulu. Sembuh dulu. Oke?” kataku sambil bersalaman dengannya

makasih ya kamu masih mau nengokin. Dan jangan lupa berterimakasihlah ke Tuhan karena telah mengajari kita bagaimana cara untuk berterimakasih dengan baik..” jawabnya agak bijaksana 

"sama sama.. ohya, pernah liat spongebobs yang episode kue pie bom kan? keihklasan yang ditunjukkan oleh spongebob sangat luar biasa. Ketika sweater buatannya yang terbuat dari alis mata ditolak squidward, ia malah membuat sweater yang terbuat dari air mata.." kataku menghiburnya. dia membalas dengan senyuman





Sesampainya dirumah aku langsung berbaring dikasur dan mengingat lagi cerita sahabatku itu. Betapa menyedihkannya balasan yang ia dapat dari pengorbanannya sendiri.

Ya Tuhanku Kekasih hatiku, aku sangat berterimakasih atas pelajaran hidup yang telah Engkau tunjukkan kepadaku dan kepada sahabatku kali ini. Semoga ini menjadi penebal iman kami kepadaMu. 

Terimakasih telah menjadikan kami sebagai insan yang mampu menghormati orang lain, dan yang mau berterimakasih. Engkau tahu Tuhan, bahwa sesungguhnya aku sangat tidak berani dan tidak berhak menolak apapun pemberian orang lain kepadaku. Baik itu yang aku sukai maupun yang tidak aku sukai. Karena aku tahu Tuhan, sebenarnya Engkaulah Yang Memberi, orang orang hanya menjadi media perantaramu dalam memberiku sesuatu. Jadi alangkah angkuhnya aku apabila aku menolak atas pemberian seseorang kepadaku, karena secara nyata aku juga telah menolak apa yang menjadi pemberianMu, seolah olah aku tidak membutuhkan pemberianMu. 

Aku tidak akan menolak apapun yang diberikan kepadaku, karena aku tidak mempunyai hak untuk menolak, justru aku akan sangat bersyukur dan berterimakasih jika aku diberi sesuatu.

Ampunilah aku Tuhan yang terlalu banyak meminta tapi kurang bersyukur, karena Sesungguhnya Engkaulah sebaik baik pemberi kepadaku, dan PemberianMu adalah sebaik baiknya pemberian untukku.

BATIK PENCABIK (lembar satu)


Aku masih duduk disebelah ranjang sahabatku. Beberapa hari ini dia terbaring lemah karena sakit yang aku sendiri menganggapnya cukup unik. dia adalah manusia yang sangat menjaga kesehatannya, dan cukup heran saat dia sakit. Maklum, dia rutin check up tiap beberapa bulan sekali. Beda dengan sahabatnya ini. Hahaha.
Perlahan lahan dia membuka matanya yang sedari tadi tertutup rapat. Tampak sekali ia tertidur dengan tidak pulas karena kondisi tubuhnya.

“udah lama dateng?” katanya sambil mencoba untuk berposisi duduk.

“yah sekitar dua bulanan” kataku menghibur

“tak kira begitu lahir langsung duduk disini” jawabnya mencoba lucu

Aku cukup kasihan melihat kondisinya yang seperti itu. Dia dikenal sebagai orang yang periang, murah senyum, dan yang jelas dia sangat humoris. Tapi kini ia terbaring lemah diatas kasurnya. Didalam kamarnya yang singup, dan agak ngeri.

Kenapa kamu mau dateng kesini?” Tanyanya agak serius

Lha yo aku ini kan temenmu dari kecil to? Masa iya sakit aja nggak mau nengokin..” kataku mencoba mencairkan dialog

“syukurlah aku masih ada yang merhatiin, ada yang masih mau baik” jawabnya sedikit lirih.

Saat dia menjawab tadi, aku tau kalau dia agak sedikit menahan emosi dari dalam dirinya. Tampak dari matanya yang semakin sembab, suaranya yang bergetar lirih. Dia memang tipe manusia yang sensitif sekali perasaannya. Sudah entah berapa kali aku melihatnya menitikkan air mata saat kondisi kondisi yang mengharukan muncul.

”kamu itu sebenernya kenapa to?” tanyaku sedikit ingin tahu masalah yang sebenarnya. Karena kata sang ibu, pada saat dia dibawa ke dokter, sang dokter hanya bilang kalau dia sedang down, mungkin ada pikiran atau sesuatu yang membuatnya sedih atau tertekan.

“kamu og kepo e?” jawabnya berusaha sambil tersenyum,

“lha ya kamu ini kan anaknya begajigan, biayakan, geguyon terus, sekarang lungkrah lemes nggak ada semangatnya sama sekali”

“malah ngece kamu itu Din”  jawabnya lagi sambil mengambil sebuah tas kecil yang terbuat dari kertas berwarna coklat.

“apa itu?” tanyaku sedikit bingung atas tindakannya

“ya ini yang jadi sumber semuanya..” katanya sambil menatap sayu tas itu yang dia serahkan padaku.
Aku mencoba menduga apa isinya. Obat beracun-kah? Makanan kadaluarsa-kah? Atau kaos kaki yang dicuci setahun sekali?

batik?” kataku bingung. Aku menatap tajam batik itu, motifnya bagus dan jarang, aku sedikit tahu tentang batik karena di SD dulu ada mata pelajaran membatik, dan yang sedang ada ditanganku saat ini adalah motif batik yang didalam lingkup keraton hanya para bangsawan kelas tinggi yang boleh memakai.

“ya, itu sumbernya” jawabnya dengan suara sedikit bergetar tampak seperti menahan sesuatu perasaan yang mendalam.

Maksudnya gimana toh?” kataku kebingungan

“aku nyoba kerja buat beli batik itu” jawabnya singkat

Ya Tuhan.. kamu ini ngapain neko neko ndadak kerja segala buat ini. Lha mbok ambil tabungan to lebih gampang. Malah marai sakit gini kan” kataku heran. Aku tau dia punya lumayan simpanan di bank, dan dia sering traktir sahabat sahabatnya juga. Keherananku selanjutnya adalah dia ini dari kecil kami main bersama sampai sekarang meskipun udah beda tempat menimba ilmu, dia selalu dimanjakan oleh orang tuanya. Pantas saja dia sakit, wong jarang kerja fisik, sekali nyoba langsung tepar.

“aku pengen ngerasain gimana rasanya berkorban untuk orang yang kita sayangi, pencapaian besar harus diawali pengorbanan yang besar juga” jawabnya sambil mengambil smartphonenya yang touchscreen itu.

Terus terang aku merasa sedikit merinding mendengar jawaban seperti itu. Jawaban yang muncul bukan dari hasil olah pikir, tapi atas pengolahan hati dan kekuatan jiwa.

“kamu kenal dia kan?” sambungnya lagi sambil menunjukkan foto seseorang dalam smartphonenya itu.
jelas lah.. kamu mau ngasih dia?” tanyaku

udahlah.. beberapa hari yang lalu..” jawabnya

Beberapa hari yang lalu? Aku semakin bingung dengan jawabannya. Ini aku yang nggak dong apa dia yang ngelantur bicaranya gara gara baru sakit?

Melihat wajahku yang tampak kebingungan, dia meneruskan bicaranya. “aku udah kasih itu ke orangnya, tapi ya itu”

Kini mulailah dia menitikkan air mata, sedikit penyesalanku muncul, kenapa harus menemui adegan sedih kayak gini.

tapi ya itu apa?” sambungku

dia nggak mau”

lha kenapa?” tanyaku mulai memahami ‘inti’ sakitnya dia ini

“ya entah, mungkin nggak suka modelnya, murahan, apa nggak suka sama yang ngasih ya nggak tau juga” jawabnya dengan rona wajah sedikit kecewa

bersambung ke
BATIK PENCABIK (lembar dua)

Senin, 24 Desember 2012

Slekethep Curhat (sesi tiga)


-sambungan dari :Slekethep Curhat (sesi dua)

Kaget! Itulah ekspresi pertama yang muncul. Aku merasa semakin sangat bersalah telah menjauhinnya, merasa mengajak debat via Quran dengan slekethep sahabatku ini yang aku dan banyak orang mengenalnya sebagai anak yang sangat mendalami ilmu agama dan terkadang diminta untuk berbagi ilmu agama dibeberapa kesempatan di masyarakat. Aku sangat tersindir dengan ayat itu.

Al Qashash 68.. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dia menunjukkan ayat itu kepadaku.

“kalau Beliau telah menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat memilih yang lain lagi dan harus menaati dan menerima apa yang telah ditetapkanNya. Mungkin aku ini ditetapkan sebagai yang berkarakter salah yang dalam pemikiranmu” Sambungnya.

Belum berhenti disitu, dia memintaku untuk melihat ayat 70.. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

“Tuhan sendirilah yang menentukan segala sesuatu dan ketentuan-ketentuan itu pasti berlaku dan Dia pulalah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak.” Sambungnya lagi.

Aku semakin terdiam lebih lebih lebih lebih jauh lagi. Dan dia menyambung lagi percakapan itu. Aku jadi teringat dengan surat Al An'aam ayat 18. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Apakah kamu pikir aku ini ‘produk gagal’nya Tuhan? katanya sambil membukakan surat As Sajdah ayat 7.. “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”

Aku berkata dalam hati, jelas ndak mungkin mosok ada Tuhan suatu saat membuat produk gagal. Beliau adalah sebaik baik pencipta dan tidak ada pencipta selainNya.

Dia, sambil jari jemarinya membuka lembaran Quran itu, berkata “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Ya aku ingat itu terjemahan surat At tiin ayat yang ke empat kalau tidak salah, gumamku.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal hal yang kamu benci itu ada kebaikan untukmu, dan boleh jadi malah yang kamu sukai, justru ada keburukan bagimu. Tuhanlah yang tahu, sedangkan kita itu ndak tahu”  katanya.

Aku semakin merasa menyesal telah melakukan tindakan mendiamkan, menjauhi, dan sikap sikap yang setipe itu tadi kepadanya.

“Aku akan terus selalu berbaik sangka dengan sangat kepada Allah, tidaklah mungkin Beliau Yang KasihsayangNya teramat luas melebihi kemurkaanNya,akan melaknatku atas sebuah sifat yang telah Beliau berikan sendiri kepadaku, dan ini semua bukan aku yang meminta. Beliau yang menentukan aku begini” Katanya sambil menghela nafas cukup panjang sembari menyodorkan ayat 21 dari Al hijr. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya (asalnya); dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

“Aku sangat bersyukur masih diberikan hidup sampai detik ini, bersyukur diberikan hidayah untuk memeluk Islam, bersyukur bisa mengenal Tuhan beserta keindahan dan kehebatan sifat sifatnya, dan akupun tidak akan pernah menghujat atau menyesali keputusanNya yang menjadikanku seorang yang berbeda ini” katanya.

Mungkin karena dia melihatku yang tampak sekali penyesalan bertamu diwajahku, dia memintaku untuk membaca ayat 11 surat Al Hujuraat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan laki laki yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan perempuan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Atas hidayahNya melalui slekethep inilah aku langsung meminta maaf atas perbuatanku selama ini. Sekarang aku sadar bahwa segala sesuatu itu mutlak kehendak Tuhan. sesuai konsep innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Segalanya berasal dariNya dan akan dikembalikan kepadaNya.

Terimakasih Tuhan, sekali lagi Engkau menunjukkan rahasiaMu, kehebatanMu, kekuasaanMu, sebagai Kreator Yang Maha Kreatif, yang telah dan dapat membuat makhluk dengan segala perbedaan padanya. Dan aku juga berterimakasih kepada sahabatku Slekethep yang telah menunjukiku salah satu cuilan kecil dari keMaha Kuasaannya Tuhan..

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan..



----------------------------------------------
Terimakasih Ya Allah, segala puji aku tujukan bagiMu, wahai pemilik Kerajaan Yang Kudus. pujian sepenuh langit sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau hendaki duhai Tuhanku.. Tuhan para malaikat serta para ruh, dan Tuhan dari seluruh alam semesta..

Slekethep Curhat (sesi dua)


-sambungan dari :
Slekethep Curhat (sesi satu)

Namun aku tidak berhenti dan menyerah disitu, aku mengeluarkan senjata pamungkas. Kisah kaum nabi Luth dalam Quran!

Panjang lebar aku bercerita sambil membolak balik Quran, aku bersorak dalam hati setelah menemukan ayat 55 dari surat An Naml "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu mu, bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui akibat perbuatanmu."

Dia justru bertanya simple, “jadi laki laki harus berhasrat kepada wanita ya?”

Jelas.. ini kan Quran. Masa mau ditentang” kataku bersiap untuk memenangkan debat ini.

Namun tak terduga dia malah memintaku membuka surat An Nuur ayat 31 Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Kalau berhasrat kepada wanita adalah keharusan bagi laki laki, mengapa Beliau berkalam seperti itu. Ini Quran masa ditentang?” katanya tenang mungkin mengejek. Jawaban yang seperti itu membuatku kikuk berfikir lagi untuk mendebatnya. Langsung aku cari ayat pembelaan lagi, dan agak ayem karena bertemu dengan ayat 29 Al 'Ankabuut. “Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar."

dia justru menjawab lagi dengan lebih tenang dengan jawaban ”coba ini, kalau kita BAB di depan kelas, atau di pintu masuk mall. Itu baik ndak?

ya ndak lah, wong itu publik area” kataku tegas.

Lha padahal BAB itu naluriah, kalau nggak bisa BAB malah sakit to?” sambungnya

ya iya. Tapi yo nek mau itu ya kan ada toilet to?! Yang privat. Yang nggak mengganggu kenyamanan umum” sanggahku.

Dia lalu membeberkan dan menguraikan kisah kaumnya nabi luth yang tadi telah aku kotbah kan kepadanya.
“Pada saat itu awal azabnya gimana ceritanya?” Katanya mengawali

Intinya Ada malaikat turun yang mewujudkan dirinya menjadi laki laki tampan, datang bertamu kerumah nabi luth, namun nabi luth agak cemas karena takut kalau kalau umatnya melihat jika ada lelaki tampan dirumahnya pastilah muncul hasrat biologis mereka. Dan ternyata itu bener kejadian. Umatnya pada liat kalau ada laki laki tampan dirumah luth dan meminta luth untuk menyerahkan tamunya itu kepada mereka (mungkin pada saat itu mereka ingin –maaf- menggilir laki laki itu). Nah karena setelah laki laki tampan itu mengaku kalau dia sebenernya malaikat yang menyamar, maka luth enggan menyerahkan ke umatnya. Maka umatnya pun marah dan luth diusir. Lalu saat luth pergi, malaikat mengazab kaum luth.” Kataku mantap

Dia balik bertanya, “kalau yang datang itu malaikat yang menyamar jadi perempuan, bukan laki laki, gimana?

“Maksudnya?” Kataku bingung

Ya kalau malaikatnya jadi wanita cantik terus mereka umatnya muncul hasrat biologis, lalu memintanya untuk memenuhi hasrat itu, boleh?” Tanyanya

“Ya ndak boleh” Jawabku

“Lha kok ndak? Itu kan berhasrat sama wanita, bukan pria” Tanyanya lagi yang kali ini juga membuatku terdiam bingung.

Yang dilarang itu tentang mengumbar hawanafsunya, nafsu sufiyah nya. Dan khususnya tentang pelaksanaan hal itu didepan umum, di publik area, tempat yang biasa manusia manusia berinteraksi. Katanya sambil menunjuk lagi ayat 29 Al 'Ankabuut. “Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." sekaligus menunjuk surat An Naml 54. Dan ingatlah kisah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkannya?"

Aku nggak mempermasalahkanmu kalau kamu mau membenci aku atau gimana, kalau kamu nggak suka dengan keadaanku, tolong buatkan aku yang tanpa sifat bedaku ini” katanya sambil menunjuk surat Al Hajj 73.. Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”

“bahkan kalaupun semua makhluk bersatu untuk mencipta makhluk sekecil lalatpun, Beliau menjamin bahwa mereka tidak akan mampu membuatnya” sambungnya.

Ya. Tidak ada yang mampu membuat sebuah makhluk, apalagi aku. cuma Beliau Yang Maha Mencipta saja yang bisa. Akupun kini semakin semakin semakin terdiam. Namun aku beranikan untuk menanggapinya.

“tapi kamu itu salah, bahkan bisa dibilang kotor!” kataku berusaha mencapai posisi aman

Dengan masih tersenyum, dia memintaku membalik halaman Quran dan menunjukkan satu ayat lagi: An Nisaa' 49. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.

Kaget! Itulah ekspresi pertama yang muncul. Aku merasa semakin sangat bersalah telah menjauhinnya, merasa mengajak debat via Quran dengan slekethep sahabatku ini yang aku dan banyak orang mengenalnya sebagai anak yang sangat mendalami ilmu agama dan terkadang diminta untuk berbagi ilmu agama dibeberapa kesempatan di masyarakat. Aku sangat tersindir dengan ayat itu.

-bersambung ke :

Slekethep Curhat (sesi tiga)